“Simbok dan Sinok”



Seperti di tahun-tahun lalu, Natal menjadi malam yang panjang bagiku. Dingin kota Ambarawa seakan tak pernah bersahabat denganku. Gereja Jago memang tak pernah sepi pada malam Natal, berduyun mereka melalui trotoar walau rintik hujan dan dingin malam menusuk jaket mereka. Angin berhembus menerpa payungku yang hampir koyak karena telah dimakan umur. Langkahku pelan tapi pasti menuju ke pintu gerbang Tuhan. Tratak lebar melindungi umat walau ada tetes air disana-sini.
Misa berjalan hikmat dan umat seakan tak mau beranjak dari tempat duduknya walau hujan sebentar menerpa jaket dan pelindung mereka. Seperti biasa aku selalu duduk di kursi belakang diantara teman-teman sekolahku. Ngobrol sana-sini sambil sesekali mendengarkan homili Romo yang selalu hampir sama dari Natal ke Natal. Cerita tentang kanak Yesus yang selalu itu-itu saja, arak-arakan lilin dll, dll itu-itu terus.

Misa usai setelah komuni dan beberapa pengumuman gereja. Sontak berhambur keluar dari gereja umat yang sedikit basah karena hujan. Entah apa yang membuat mereka begitu setia, menahan dingin sekedar untuk mendengarkan cerita yang sama. Entah setan apa yang ada di kepalaku hingga saat natal seperti ini aku berfikir tentang hal itu.

Malam berganti pagi, semburat sinar keemasan menerobos awan tipis berarak. Kicau cicit burung gereja tak henti di pohon sebelah rumahku. Pagi itu menjadi saksi malam natal di tahun ini dengan segala kemeriahannya. Sarung masih melingkar dileherku, enggan rasanya melepas. Rambutkupun masih acak-acakan dan mukaku belum kubasuh. Kubuka jendela kamar dan kulihat Simbokku (Ibu-Jawa) menyapu teras depan rumah yang masih berlantai tanah. Sreek…Sreek…Sreek terdengar menggelitik telingaku. “ Mbok … adik sudah bangun belum ?” tanyaku padanya. “ Wis … kae ning kandang lagi makani Sinok !” teriaknya. Bergegas aku menyusul adikku di kandang sambil melepas lilitan sarungku. “ Dik … Sinok kok wenehi pakan apa ?” selaku mengagetkannya. “ Iki Mas …. Suket olehmu ngarit dek wingi “ jawabya.
Adikku memang paling sayang dengan Sinok, kambing hamil yang dibeli Bapak dua bulan lalu lalu di pasar Pon. Tiap pagi selalu diberinya makan rumput yang aku cari di kebun Pak Wondo yang luas. “ Nang … wedusmu kuwi arep nglaerake, tulung golekna suket garing kanggo nglambari supaya rada angget ” perintah Simbokku. Sabit terselip di sudut dapur kuraih dan berlari mencari rumput-rumput kering. “ Sial …. Malam tadi khan basah. Terus harus kemana kucari rumput kering itu “ gumamku sambil kecil-kecil. “ Hai …. Jo ..tahu nggak dimana ada rumput kering ?” tanyaku pada Bejo memaksa. “ Edan .. kowe semalam khan hujan deras “ jawabnya. “ Kamu punya rumput kering nggak dirumah ?” kembali bertanya. “ Coba saja dirumah Didik !” jawab Bejo kembali memerintahku. Tanpa menoleh sana-sini aku bergegas lari menuju rumah Didik. “ Sial … Didik khan semalam pergi ke tempat saudaranya di semarang “ gerutuku didepan rumah didik yang tertutup rapat. Kembali aku berlari, terengah dan peluh menetes dikening tak kuhiraukan demi rumput kering itu. Kulihat Pak Wondo di sudut kebunnya. Mendekat aku dan bertanya “ Pak Wondo … Bapak punya rumput kering tidak ya ?”. “ Rumput …kering di musim penghujan begini susah carinya..Nang !” jawabnya. “ Tolonglah ..Pak ? kambingku mau melahirkan sementara rumput kering untuk alasnya tidak ada “ pintaku menghiba. “ Nang … kamu boleh kerumah lihat saja ada tidak cadangan rumput kering di kandang !” selanya kembali. Berlari aku ke rumah Pak Wondo dan langsung ke kandang sapinya. Setumpuk rumput kering kuangkat diatas kepala dan berlari menuju rumah yang tak begitu jauh. Kambingku mengembik kuat diatas tumpukan rumput kering itu. Adikku cemas melihat dan tak tahan kemudian meniggalkan kandang menunduk. Aku dan Simbokku mencoba mengelus perut kambing itu menenangkan. Tapi apa arti elusan itu aku tak tahu. Embeeeek….embeeekk !! seakan berteriak menahan sakitnya. Hujan tiba-tiba turun dan mengguyur tanah disekitar kandang. Tetesan hujan melalui atap yang bocor tak mau henti menetes. Embeeekk.… embeeeeek …embeeekkk! Kembali teriakan itu terdengar dan Simbokku setia menunggu dan mengelus perut kambing itu. Tiba-tiba mataku nanar melihat seonggok kepala menembus lubang didekat dubur kambing itu. Merah dan berlendir. Embek … Embeekk  …. Embeekkk !!! berteriak keras kambing itu mengejan mendorong anaknya agar keluar dari perutnya. Darah mengucur deras bersama lendir bening. Embeeekkk !!! teriakkan terakhir itu mendorong keluar kambing mungil berwarna putih kecoklatan dilapisi lendir dan darah. Segera Simbokku memotong tali pusar dan mengelap badannya hingga bersih. Tak kusadari kalau Sinok tak berdiri kembali, mengangkat kepalapun tidak. Adikku mendekat dan memandangi Sinok induk itu dan menangis. “ Mas kenapa Sinok diam saja ?” adikku bertanya. Aku terdiam sejenak memandangi induk kambing itu. Memegangnya dan memastikan dengan mengguncangnya. “ Mbok … Sinok kenapa ??” simbokku diam saja dan hanya menundukkan kepala tak menjawab. “ Kenapa ..Sinok…Mbok ?”, ibuku keluar mencari selembar kain dan menutup tubuh induk baru itu. Adikku berlari keluar dan menangis. Aku terdiam memandangi anak kambing itu. Lemah dan terkulai kulitnya halus dan mungil. Entah berapa lama aku memandanginya hingga tak sadar kalau anak kambing mungil itu berdiri dan mendekatiku. Ibuku membawa botol dot yang dulu pernah dipakai adikku waktu bayi dulu terisi air berwarna putih susu. Memegangi mulut mungil kambing dan menyusukan dot itu. Aku terkesima melihat pemandangan yang baru sekali kulihat itu.

Sore itu kugali tanah di sudut pekarangan dan mengubur Sinok disana. Tak sadar kalau air menetes disudut mataku. Tak sanggup rasanya meletakkan kambing itu ke dalam tanah dan menguburnya.
Matahari mulai meredup dan sebentar lagi hampir malam. Em… bek …. Em..bek ! terdengar pelan suara kambing mungil itu. Entah apa artinya, memanggil ibunya atau kedinginan aku tak tahu. Embek…embek… ! kembali terdengar suara itu. Adikku berjalan membawa sarungnya ke kandang dan entah apa yang akan dilakukannya. Malam itu kabut tipis menyelimuti desaku, dingin terasa menusuk pori-poriku. Dengan membawa obor aku berjalan menuju kandang kambing mungil itu. Sontak kaget aku melihat adikku masih disana dengan sarung dan kambing mungil didalam sarung itu. Kambing mungil itu terpejam diam seakan tidur dalam pelukan induknya. Adikku tertidur dengan memegangi kakinya kedinginan diatas rumput kering disudut kandang yang hanya diterangi “uplik” (jawa-lampu minyak tanah). Terdiam aku didepan kandang dan menatap tajam adikku dengan tidurnya yang tak nyaman. Sementara kambing mungil itu lelap didalam sarungnya.

Adikku kugendong ke dipan tempat kami tidur di dalam rumah. Dan kulihat Bapakku baru saja pulang dari kerja. “ Mbok … weduse wis nglairake durung ??” tanya bapakku. “ Wis …Pak nanging mbokne mati kentekan getih, kae mau dikubur ning pojokkan ngisor papringan “ jawab Simbokku. “ Yo wis nanging cempene slamet khan !” selanya. Sekop mengkilat yang biasa dibawa bapakku terselip di antara gedeg dan usuk kayu diatas pawon tempat kami memasak. Bapak memanggilku dan bertanya “ Nang … sesuk esuk tulung golekna suket enom kanggo cempene ya !” perintahnya. “ Inggih … Pak “ jawabku.

Bapakku rebah di dipan papan disudut ruang tamu dengan alas tikar sambil mendengkur kelelehan dan Ibuku tidur dikamarnya. Aku masih bengong sendirian membayangkan kejadian pagi hingga sore tadi. Cerita tentang awal dan akhir, kelahiran dan kematian membuatku tak lelap diatas pembaringan. Kulirik adikku telah lelap dengan selimut kumalnya. Dalam hati aku bergumam “ Apakah kejadian hari ini yang artinya Natal bagiku”. Cerita tentang perjuangan induk kambing yang berat untuk melahirkan anak. Nyawa tak diperdulikan asal anaknya selamat. Sakit tak dihiraukan asal anaknya selamat. Dingin tak dirasakan asal anaknya selamat. Alas melahirkan yang tak bisa dipilih asal anaknya selamat dan masih banyak alasan lain yang menyesakkan asalkan anaknya selamat. Sinok kini menjadi simbok bagi kambing mungil itu disurga. “ Tuhan … maafkan aku dengan ketidak tahuanku akan misterimu, Ibu maafkan aku dengan kebodohanku. Terimakasih atas perjuanganmu melahirkanku “

Wowok
Ambarawa

Photo: https://www.quoteamor.com

Komentar